Hi Bunciters,

Kali ini Buncit ingin membagikan pengalaman saat ke Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara) beberapa waktu yang lalu. Kunjungan kali ini adalah kunjungan kedua Buncit ke Museum MACAN, di mana saat itu masih berjalan pameran Yayoi Kusama (12 Mei – 9 September 2018).
Ditutup hampir 2 bulan dan pada bulan November ini Museum MACAN kembali hadir dengan mempersembahkan tiga presentasi individual yang menampilkan serangkaian karya seni parisipatoris dan performans ciptaan tiga seniman Asia.
Sedikit latar belakang, 3 seniman pada pameran kali ini (dikutip dari buku panduan Museum MACAN)
Arahmaiani
“The Past Has Not Passed” – Masa Lalu Belumlah Berlalu
Arahmaiani adalah salah satu tokoh wanita yang paling penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer di Asia Tenggara pada tahun 1990an.
Arahmaiani muncul sebagai seniman di tahun-tahun menjelang reformasi politik pada 1998, yang juga merupakan masa di mana berbagai pameran besar internasional diselenggarakan dan mulai mengikutsertakan seniman di luar negara Barat sebagai cerminan perubahan kesadaran global. Tahun 1996, Arahmaiani ikut serta dalam “Tradition/Tensions” di Asia Society, kota New York dan Asia Pacific Triennial ke-2 (APT2) di Queensland Art Gallery, Australia.
Di Tahun 1997, ia menjadi bagian dalam The Havana Biennale, Kuba dan Cities on the Move – Contemporarry Asian Art on the turn of the 21th century di Wiener Secession di Wina. Keikutsertaannya dalam berbagai pameran tersebut menempatkan Arahmaiani sebagai salah satu sosok seniman wanita penting di Asia Tenggara. Hal tersebut juga berperan dalam transformasi konteks acuan praktik keseniannya, yang menghasilkan beberapa karya ikonik seperti Performans Handle without Care (1996-2018) dan instalasi Nation for Sale (1996-2018).
Sejak 1980an, Arahmaiani telah hidup, dalam deskripsinya sendiri, sebagai “nomaden global” – berpindah antara berbagai kota dan negara dengan beragam kebudayaan, yang kemudian membentuk kesadaran sosialnya dan terwujud dalam kekaryaannya. Pameran ini menyuguhkan karya-karya dari awal karir Arahmaiani sejak 1980an hingga saat ini yang meliputi instalasi awal, lukisan, gambar, serta dokumentasi foto dan video, tulisan, dan publikasi, untuk menggambarkan konteks social dan budaya yang melatari pembuatan dan presentasi karya-karya tersebut.
Pada 1987 Arahmaiani menyatakan, “Bila perlu, dapat saya katakana, memperluas kanvas saya seluas-luasnya menjadi kehidupan itu sendiri. Dan mengganti kuas dan cat dengan unsur-unsur yang ada dalam kehidupan.” Aktivitasnya sebagai seniman, penulis, dan aktivitas social, telah mengeksplorasi perpotongan antara reformasi Indonesia dan diskursus seni rupa global yang meluas, yang sering berkaitan dengan situasi social, budaya, dan politik di sekitarnya, serta pengalaman pribadi.
Karya-karya Arahmaiani juga menyinggung persoalan sejarah multicultural Indonesia – pengaruh Hindu, Budha, dan tradisi animism dan kaitannya dengan arsitektur dan Bahasa Jawa; fondasi budaya Islam; kolonisasi, perubahan lanskap politik dan ekonomi, pengalaman globalisasi dan urbanisasi, lingkungan, serta peran wanita dalam masyarakat. Dengan menggunakan berbagai media tradisional dan non-tradisional, karyanya telah beresonansi dengan berbagai kelompok dan komunitas di seluruh dunia.
Nation for Sale (1996)
Burning Country (2016)

I Love You (2009)
[After Joseph Beuys Social Sculpture]

Flag Project (2006 – 2010)

Wedding Party (2004)
Lee Mingwei
“One Million Years Reading” (Reading)
Pembacaan karya On Kawara yang berjudul One Million Years (1993 – sekarang) akan ditampilkan untuk pertama kalinya di Indonesia. Sesuai judulnya, karya partisipatoris ini melibatkan dua orang relawan – laki-laki dan perempuan – untuk membacakan nama tahun dalam karya Kawara yang terdiri dari dua bagian – One Million Years [Past] berisi nama tahun dalam satu millennium dari 998031 SM, dan One Million Years [Future], yang berisi nama tahun dalam satu millennium hingga 1001997 Masehi.
Pembacaan pertama karya One Million Years berlokasi di Dia Center for The Arts, New York pada 1993, dan setelahnya karya ini telah dipresentasikan di berbagai tempat, termasuk documenta 11 (Kassel, Jerman) dan Trafalgar Square (London, Inggris). Pada setiap presentasi, pembaca akan melanjutkan membaca tahun setelah pembaca sebelumnya, melambangkan konsep waktu secara kronologis, yang merupakan tema utama dalam karya-karya sang seniman.

The Letter Writting Project (1998 / 2018)

Guernica in Sand (2006/2018)

The Mending Project (2009 / 2018)
On Kawara
“One Million Years” (Reading)
Pembacaan karya On Kawara yang berjudul One Million Years (1993 – sekarang) akan ditampilkan untuk pertama kalinya di Indonesia. Sesuai judulnya, karya partisipatoris ini melibatkan dua orang relawan – laki-laki dan perempuan – untuk membacakan nama tahun dalam karya Kawara yang terdiri dari dua bagian – One Million Years [Past] berisi nama tahun dalam satu millennium dari 998031 SM, dan One Million Years [Future], yang berisi nama tahun dalam satu millennium hingga 1001997 Masehi.
Pembacaan pertama karya One Million Years berlokasi di Dia Center for The Arts, New York pada 1993, dan setelahnya karya ini telah dipresentasikan di berbagai tempat, termasuk documenta 11 (Kassel, Jerman) dan Trafalgar Square (London, Inggris). Pada setiap presentasi, pembaca akan melanjutkan membaca tahun setelah pembaca sebelumnya, melambangkan konsep waktu secara kronologis, yang merupakan tema utama dalam karya-karya sang seniman.

Children’s Art Space
Gatot Indrajati : The Tinkering Box [Agustus 2018 – Maret 2019]
Gatot Indrajati adalah seorang seniman kelahiran Bogor tahun 1980. Kini Beliau tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Keahliannya pada penggunaan medium kayu untuk melukis, instalasi, dan seni pahat.
The Tingkering Box adalah sebuah ruangan kreativitas yang mengajak anak-anak untuk berimajinasi dan membuat sebuah karya menggunakan Cardboard dan kayu.
Membiasakan diri untuk melihat barang yang rusak atau tidak terpakai menjadi sebuah karya baru. Kegiatan seperti ini dapat membatu menjaga lingkungan.


Semua foto di post blog ini menggunakan kamera ponsel, dikarenakan peraturan dari Museum MACAN yang tidak memperbolehkan untuk menggunakan kamera.

[Harga Tiket Masuk]
Dewasa : Rp 100.000,-
Senior (65tahun +) : Rp 90.000,-
Pelajar : Rp 90.000,-
Anak-Anak (3 – 12 tahun) : Rp 80.000,-
[Jam Operasional]
Senin – Minggu : 10.00 – 19.00
Sesi I : 10.00 – 14.00
Sesi II : 14.00 – 19.00 (Batas akhir masuk museum 18.00)
[PENTING]
Teman-teman yang ingin pergi ke sana, dimohon untuk memahami peraturan yang berlaku dan jangan sampai merusak karya seni yaaa… Berikut Tata Tertib Museum MACAN yang wajib kalian patuhi
1. Jangan menyentuh karya seni.
2. Berbicaralah dengan lembut. Atur ponsel Anda ke mode senyap dan jangan melakukan percakapan telepon di dalam area pameran.
3. Berjalanlah dengan tenang.
4. Dilarang berlari dan memakai sepatu roda di dalam museum.
5. Dilarang membawa makanan dan minuman ke dalam area pameran.
6. Demi keamanan dan kenyamanan, barang bawaan harus diperiksa di pintu masuk. Barang yang berukuran lebih besar dari 24x24x15 cm harus disimpan di penitipan barang.
7. Diperbolehkan menggambar sketsa dengan pensil di area pameran, dengan buku yang berukuran tidak lebih dari 22×28 cm.
8. Masuklah ke area pameran sesuai waktu yang tertera pada tiket.
9. Dilarang membawa binatang peliharaan.
10. Arang, Krayon, spidol permanen, cat air, cat minyak, dan benda tajam tidak diperbolehkan di area pameran.
11. Dilarang membawa segala jenis kamera, termasuk DSLR, SLR, dan Polaroid. Dilarang menggunakan lampu kilat.
12. Hanya boleh memotret dengan ponsel.
13. Dilarang membawa segala jenis alat bantu/perlengkapan fotografi seperti tripod, monopod, dan tongkat swafoto.
14. Selalu simpan tiket Anda. Pengecekan bisa sewaktu-waktu dilakukan diarea pameran.
15. Staf museum dan pengunjung meseum berhak atas lingkungan yang aman yang bebas dari kekerasan, penganiayaan, atau perilaku yang mengancam. Kami berhak mengeluarkan pengunjung dari area atas alasan-alasan tersebut.
16. Semua penjualan tiket adalah final. Tiket tidak dapat ditukar / dikembalikan.

Museum MACAN (Modern and Contemporary Art in Nusantara)
AKR Tower Level MM
Jl. Perjuangan No.5, RT.11/RW.10, Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11530
Tlp. (021) 22121888
IG: @museummacan
Website : museummacan.org


